Kisah Batu Nenek Desa Tanjung Pura | Terasing.com | Cerita Dewasa | Foto Hot | Prediksi Bola

Online Betting Terpercaya Poker dan Domino Online Terbaik Agen Bola Agen Domino Online Agen Bola Agen poker, judi poker Poker Online Poker Online Terpercaya Bandar Online Terpercaya Pokerclub88 Capsa Susun Bandar Q Bandar Q Agen Online Terpercaya Agen Poker Domino99 Capsa AduQ BandarQ Online Agen Togel Online Asli4D Agen Poker BandarKiu Online ituQQ Agen Judi BandarQ BandarPoker Domino Online Indonesia Agen Judi Online Casino & SportsBook Agen Poker Domino QQ Online Agen Poker Domino QQ Online Judi Poker Domino 99 Online Judi Poker Domino 99 Online Agen Togel Nasional Online Poker Online Judi Casino dan Togel Online Indonesia Poker Online
Top Live Score dan Prediksi Online Live Togel Agen Judi Bola SBOBET Casino & Taruhan bola Online
Texas Poker Uang Asli Golbet88 - Agen Bandar Betting Bola Online

Kisah Batu Nenek Desa Tanjung Pura

Poker Online Poker Online

Bongkahan batu besar, yang apabila dilihat sekilas mirip kepala seorang nenek-nenek. Batu tersebut menjadi mitos dan sekaligus simbol di Desa Tanjung Pura di Dusun Tanjung Tedung, Kecamatan Sungai Selan, yang merupakan desa paling ujung di Kabupaten Bangka Tengah (Bateng).

Kisah Batu Nenek Desa Tanjung Pura

Batu tersebut, dikenal warga setempat dengan sebutan batu nenek. Namun, sayang keberadaan batu ini terancam karena abrasi air pantai. Maklum batu ini, berada tepat di bibir pantai, yang tidak jauh di lokasi yang rencana akan dibangun pelabuhan skala internasional.

Berdasarkan cerita turun temurun warga setempat, asal mula nama desa mereka erat hubungannya dengan batu tersebut.

Pada zaman dahulu, di daerah tersebut hidup sepasang suami istri, yang dikenal bernama Akek Antak dan Nek Antak. Kedua pasangan suami istri ini, tinggal di Desa Permis tetapi memiliki Umeh ( ladang-red) di daerah Dusun Tanjung Tedung.

Ketika itu, Akek Antak dikenal seorang tokoh yang disebut-sebut, memiliki ilmu kanuragan tinggi. Saat panen padi, dan padinya di jemur di rumah pondoknya seringkali hilang.

Kesal hasil panennya hilang, akhirnya Akek Antak memanggil peliharaannya berupa ular Tedung. Dan berpesan apabila ada yang mengambil padi di jemuran dan mengunakan baju biru, agar dipatuk saja.

Kemudian dia berangkat ke Permis untuk melihat kebunnya disana. Saat itu di Dusun Tanjung Tedung akan turun hujan.

Istri Akek Antak, yang dikenal bernama Nek Antak sedang berladang. Melihat padi sedang yang dijemur dirinya berinisiatif mengangkat jemurannya.

Naas dirinya yang saat itu, masih mengenakan baju biru untuk berladang. Ular Tedung yang berada tidak jauh dari penjemuran padi segera melaksanakan perintah tuannya, dan mematuk sehingga sang nenekpun tewas.

Singkat cerita, Akek Antak yang berada di Permis pulang kek dusun Tanjung Tedung. Betapa kagetnya, Akek melihat istri tercinta telah meninggal dunia dan menjadi batu.

Kemudian dirinya lalu melampiaskan kekesalannya dengan memotong-motong tubuh ular peliharaannya. Begitulah cerita, yang beredar di daerah tersebut, sehinggga daerah itu dinamakan Tanjung Tedung yang sekarang menjadi Desa Tanjung Pura. Nama desa diambil karena berada di Semenanjung dan nama tedung diambil dari nama ular Tedung.

Ketua BPD Desa Mastari mengatakan Batu nenek ini, rencananya akan dilestarikan dan dipugar.

“Rencana kita, batu ini, mau kita pugar, dan kita pelihara, sebagai simbol desa. Batu ini dulunya masih bagus, bahkan selendangnya juga masih ada. Tetapi mulai terkikis karena abrasi pantai. Maka rencananya mau kita pugar,” imbuhnya.

Share this post:

Recent Posts